Anak Broken Home, Berikut 7 Jenis Emosi yang Tidak Bisa Mereka Hindari

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 09 September 2022
“Perpisahan orang tua bisa membuat anak mengalami masalah emosional. Kondisi ini juga bisa menciptakan bermacam-macam emosi, mulai dari marah, sensitif, emosi tidak stabil, pesimis akan relasi, dan lain-lain.”

Anak-anak broken home memiliki emosi yang lebih sensitif dan rentan. Ini disebabkan oleh pengalaman perpisahan orang tua, mungkin juga pertengkaran ayah ibu yang kerap disaksikannya selama tumbuh kembangnya. Ini semua kemudian yang menjadikan mereka lebih emosional ketimbang anak yang memiliki orang tua dengan hubungan yang harmonis.

Perkembangan perilaku anak termasuk juga emosinya dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, tetapi faktor besarnya adalah pengalaman bersama orang tua. Lantas, seperti apa emosi yang dimiliki oleh anak broken home? Selengkapnya bisa dibaca di sini!

Alasan Anak Broken Home Lebih Sensitif dan Pesimis
Perpisahan orang tua bisa membuat anak mengalami pengalaman emosional yang tidak mudah. Anak-anak dari segala usia mungkin bisa jadi lebih sering menangis atau tertekan selama beberapa tahun setelah orang tua.

Lantas, seperti apa saja jenis emosi yang cenderung hanya dialami anak damaged home? Ini ulasannya:

1. Mudah Marah

Anak-anak kerap merasa kewalahan dan tidak tahu bagaimana menanggapi perpisahan. Ini bisa membuat anak menjadi mudah marah dan tersinggung.

Anak damaged domestic yang memproses perceraian mungkin menunjukkan kemarahan pada orang tua mereka, diri sendiri, teman-teman mereka, atau bisa juga ke orang lain. Situasi emosional ini bisa saja hanya bertahan selama beberapa waktu, tetapi juga bisa berkepanjangan dan menjadi luka batin.

2. Perasaan Bersalah

Anak-anak sering bertanya-tanya mengapa perceraian terjadi dalam keluarga mereka. Mereka akan mencari alasan, bertanya-tanya apakah orang tua mereka tidak lagi saling mencintai, atau apakah mereka telah melakukan kesalahan.

Perasaan bersalah ini adalah efek yang sangat umum dari perceraian pada anak-anak, tetapi bisa menjadi pemicu masalah lain. Rasa bersalah meningkatkan tekanan, dapat menyebabkan depresi, stres, dan masalah kesehatan lainnya.

3. Lebih Sensitif

Perceraian dapat membawa beberapa jenis emosi terutama untuk anak. Perasaan kehilangan, kemarahan, kebingungan, kecemasan, dan banyak lainnya, semua mungkin berasal dari transisi ini.

Perceraian dapat membuat anak broken domestic menjadi lebih sensitif, gampang menangis, mudah curiga, takut mengekspresikan perasaannya, atau malah jadi lebih ekspresif. Efeknya bisa berbeda-beda pada tiap anak, tergantung situasi keluarga masing-masing.

4. Memendam Perasaan

Perceraian dapat memengaruhi anak-anak secara sosial. Anak-anak yang keluarganya mengalami perceraian mungkin memiliki waktu yang lebih sulit untuk berhubungan dengan orang lain dan cenderung memiliki kontak sosial yang lebih sedikit.

Terkadang anak-anak merasa tidak aman dan bertanya-tanya apakah keluarga mereka adalah satu-satunya keluarga yang bercerai.

Five. Hilang Keyakinan pada Makna Relasi, Keluarga, atau Pernikahan

Anak damaged domestic kerap memiliki emosi tidak stabil yang berdampak pada keyakinannya akan makna relasi, keluarga, ataupun pernikahan. Akibatnya, ada kecenderungan untuk lebih mudah menyerah terhadap hubungan, pesimis, ataupun skeptis.

6. Kecemasan yang Merujuk pada Posesif

Anak-anak yang lebih kecil mungkin menunjukkan tanda-tanda kecemasan ketika harus tidak bersama dengan orang tuanya. Entah itu ketika sekolah ataupun ke rumah salah satu orang tua.

7. Kecenderungan untuk Impulsif

Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, perilaku agresif, dan pengenalan terlalu dini pada aktivitas seksual juga lebih mungkin terjadi pada anak damaged home. Mereka juga bisa melakukan aktivitas impulsif lainnya yang tidak dipikirkan secara matang.

Menyadari kemungkinan-kemungkinan emosi yang bisa saja dimiliki oleh anak damaged domestic, jadi ada baiknya orang tua menyikapi perpisahan dengan lebih bijaksana. Jangan menjadikan perceraian sebagai permasalahan ayah dan ibu saja, tetapi juga memikirkan bagaimana perkembangan anak ke depannya.

Penting mengedepankan keterbukaan dan menahan diri untuk tidak meluapkan emosi di depan mantan pasangan, untuk menjaga emosi anak. Bila diperlukan, lakukan konseling sebagai adaptasi transisi untuk ayah, ibu, dan anak menyikapi perpisahan ini.

Referensi:
Family Means.Org. Diakses pada 2022. What Are the Effects of Divorce on Children?
The News.Com. Diakses pada 2022. The impact of a damaged circle of relatives.
Youth Voices Live. Diakses pada 2022. Child Development and Behavior: Broken Homes, Hopes, and Dreams.
Healthline. Diakses pada 2022. 10 Effects of Divorce on Children — and Helping Them Cope.